Mariyani Atmaja

the Diary® 👨👩👦👶

Mujizat Tuhan Melalui Si Aden

Tulisan ini dibuat dengan maksud hanya satu, supaya nama Tuhan semakin dipermuliakan lewat kesaksian kami, yang mengalami sendiri mujizat dan kemurahanNya yang luar biasa! Amin.

Pada waktu itu saya masih bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta, sehingga mau gak mau anak-anak dijaga oleh dua orang pengasuh. Karena tahu bahwa mencari PRT bukan hal yang mudah (karena yang terakhir ini saya sendiri yang cari ke kampungnya di Wonogiri lewat kenalan mamaku di Semarang), makanya saya gak ambil pusing dengan kualitas kerjanya, yang penting anak-anak terurus, pikirku saat itu.

Kedua pengasuh ini masing-masing bertugas mengasuh anak-anakku, Marco dan Marcio. Namun baru satu bulan kerja, kaki mungil si Aden yang waktu itu baru 11 bulan, kena setrikaan! Melihat kaki gendutnya melepuh lumayan lebar benar-benar bikin sedih.

Saat itu saya dan suami sangat shock sampai kehabisan kata-kata. Sudah gak bisa marah lagi!

Dari situlah titik awal saya dan suami mulai berencana untuk saya mengajukan pengunduran diri dari pekerjaan setelah Lebaran yang waktu itu tinggal beberapa bulan lagi. Jujur, secara manusia, waktu itu kami masih galau dan kuatir. Nanti gimana ya, bisa gak ya saya jadi IRT Fulltime? Cukup gak ya dari segi finansial, karena penghasilan nantinya murni hanya dari suami saja? Dan masih banyak lagi kegundahan lainnya.

 

05 Juni 2014
Bulan ke-2 PRT bekerja di rumah kami, tepat di hari ulang tahun ke-1 si Aden, saya akhirnya mengajukan pengunduran diri kepada atasan. Saya masih ingat, itu di jam makan siang. Dan beberapa jam setelah itu, saya dapat telepon dari PRT di rumah bahwa Aden kena air panas!! Namun saya masih antara sadar dan tidak sadar. Setelah tutup telepon, saya kembali ke ruangan atasan dan mohon ijin pulang rumah karena anak kena air panas. Barulah setelah atasan saya berteriak karena kaget, saya pun histeris gak karuan!! Dengan kondisi super shock seperti itu saya tetap pulang naik angkot disambung naik kereta seperti biasa karena saya pikir kalau naik taksi pasti lebih lama lagi sampainya karena macet.

Suami saya akhirnya berhasil dihubungi oleh atasan saya prihal musibah ini. Dan segera, suami saya menelepon tetangga untuk ke rumah saya dan segera melarikan Aden ke RS terdekat. Suami saya juga shock tapi masih bisa mikir untuk telepon orang lain cari bantuan secepatnya. Bedanya sama saya, kalo uda stress, cuma bisa nangis aja selama di dalam kereta.

Langsung dari kantor masing-masing, kami menuju ke IMC Jombang, tempat Aden dibawa untuk ditangani. Ini dekat dengan stasiun Sudimara di mana saya turun kereta. Sesampainya di IMC, saya langsung menangis histeris sejadi-jadinya, melihat Aden dadanya berwarna pink, karena melepuh.

Foto ini tindakan pertolongan pertama untuk Aden di IMC Jombang.

 

Makasih Pak Theo (GSB) yang sudah bantu antarkan Aden ke RS, Tuhan balaskan melimpah, amin.

Setelah cairan lepuhan disedot, kami diminta untuk mencari kamar supaya Aden bisa dirawat inap di sana. Untung aja kamar penuh. Loh kenapa?

Karena di IMC dokter masih tidak tahu kalau Aden itu selain kena luka bakar di permukaan kulit dari dagu sampai perutnya, air panas ternyata juga masuk sampai ke saluran pernafasan. Ini sangat berbahaya dan menyebabkan pembengkakan di bagian dalam saluran pernafasan. Akibatnya dia jadi sangat kesulitan untuk bernafas.
Karena kamar penuh, maka Aden dirujuk ke RS Premier Bintaro. Selama di sini Aden ditangani di UGD, luka bakarnya dibersihkan lagi dan dibungkus perban. Di sini juga Aden di X-ray pertama kali untuk melihat kondisi saluran nafasnya. Dan karena kamar ICU untuk anak (ruangan PICU) juga penuh, maka kita dirujuk lagi ke RS Eka Hospital. Saya dan Aden naik ambulans. Papanya nyusul naik mobil sama si mbak. Marco tetap di rumah sama mbak satunya.

Sampai di RS Eka Hospital, kondisinya makin memburuk dan Aden merintih terus, kesulitan bernafas karena air panas masuk ke saluran pernafasan dan melepuh juga di rongga nafasnya, ini yang membuat Aden kesulitan bernafas.

Beberapa teman datang menengok dan memberi support. Dan akhirnya setelah teman-teman pulang, Aden dipindah ke ICCU. Suami saya juga mau pulang, tapi karena kunci mobil tertinggal di tas saya, jadi dia kembali dan tidak berapa lama Dokter panggil kita dan bilang bahwa malam itu juga (sekitar jam 11 malam waktu itu) akan diambil tindakan segera, yaitu : pasang selang ke paru-paru untuk bantu pernafasannya karena tenggorokan dan kerongkongan Aden sudah bengkak semua!

Selama proses pasang selang tsb, saya dan suami menunggu di depan ruang tindakan. Kami berdoa menjerit menangis gak henti-henti kepada Tuhan minta tolong!

Tapi ternyata proses pasang selang GAGAL!! Kondisinya uda gak karuan di dalam saluran nafas. Terlalu bengkak dan sempit untuk selang bisa masuk. Akhirnya dipasang alat bantu pernafasan sementara seperti di gambar ini. Karena Aden gelisah dan kesakitan terus maka Aden diberikan obat tidur.

Hati mama mana yang kuat melihat anaknya dalam kondisi dipasangi alat-alat seperti ini?!

Hari itu terasa begitu panjang, hari ulang tahunnya Aden yang kesatu, yang juga bersamaan dengan hari ulang tahun pernikahan kami yang berusia dua tahun. Tuhan ijinkan peristiwa ini terjadi. Pasti Dia punya maksud.

Setelah itu suamiku pun pulang ke rumah, mengantar si mbak. Sementara saya standby di RS.

 

06 Juni 2014
Sekitar Pk 04.30 Dokter info hasil evaluasi pernafasan dengan alat sementara yg dipasang itu, hasilnya masih belum bagus. Jadi harus segera dilakukan tindakan lagi untuk pasang selang. Karena urusan pernafasan sangat penting, resikonya bisa hilang nyawa! Begitu penekanan yang disampaikan Dokter.

Dokter menjelaskan kalau kali ini tidak berhasil lagi, maka harus siap dengan plan B yaitu bikin lubang di lehernya untuk jalan masuk udara dan juga asupan buat Aden.

Tapii… masalahnya utk eksekusi plan B, di Eka Hospital kebetulan tidak ada selang yang ukuran anak kecil, dan belum pernah juga menangani kasus anak berusia 1 tahun seperti Aden ini.

Jadi subuh itu dokter menyarankan untuk dirujuk ke RSCM Salemba. Karena di sana ada alatnya dan banyak dokter handal yang sudah biasa menangani kasus-kasus luka bakar pada anak kecil seperti ini.

 

Kamipun nurut saran dokter. Pagi itu Pk. 9 setelah semua disiapkan, para perawat dan tim medis di Eka Hospital berdiri melingkar dan berdoa untuk Aden, saya sampai terharu banget melihatnya. Terima kasih banyak ibu2 dan bapak2 dokter dan perawat! Hanya Tuhan yang bisa balaskan.

Akhirnya saya dan Aden naik ambulans lagi menuju ke RSCM. Mertuaku sudah sampai di RSCM langsung dari Surabaya, dan beliau sangat shock melihat Aden turun dari ambulans dalam kondisi tergeletak tak berdaya dengan banyak alat bantu nafas.

Saat itu saya sudah gak bisa apa-apa selain tetap membesarkan nama Tuhan sambil terus menantikan kebesaran Tuhan dinyatakan melalui kesembuhan Marcio.
“Saya teramat percaya… doa org banyak apabila dgn yakin didoakan akan mengguncang surga !!! Mohon doa2nya ya teman2.. krn sesungguhnya mujizat kesembuhan adl perkara kecil bagi Tuhan. Aminnnnnnnn..”

Ini yang saya tulis di FB waktu itu. Jujur, sampai sekarang kalo baca curhatan itu, bikin air mata berlinangan.

Sampai di RSCM, saya minta ijin untuk terus ada mendampingi pada saat Aden ditindak. Dan ijin pun diberikan. Di RSCM, pasien ditindak di UGD dulu, campur semua dengan pasien lain yang kecelakaan, yang sakit jantung, dll. Baru setelah itu dibawa ke ruang steril.

Di sini saat persiapan tindakan, kembali saya dijelaskan bahwa Aden akan dilakukan tindakan : pemasangan selang utk bantu pernafasannya. Kalau semisal gagal, plan B nya adalah membuat lubang di lehernya supaya tetap bisa bernafas.

Sesuai prosedurnya, dokter akan menjelaskan efek samping atau resiko terburuk dari setiap tindakan yg diambil, lalu kemudian kita diminta tanda tangan sebagai persetujuan atas tindakan yang dimaksud.

Untuk plan B dokter menjelaskan resikonya nanti bisa terjadi pendarahan di paru-paru dan harus ada terapi-terapi lanjutan untuk mengatasi trauma anak karena salah satu efeknya : anak akan mengalami kesulitan bicara.

Rasanya kayak uda kiamat buat saya! Seperti makan buah simalakama kan??!
Benar-benar keadaan yang pelik buat saya, tapi kita pun gak punya pilihan selain tetap berharap Tuhan bermurah hati dan lakukan sesuatu bagi kesembuhan Aden.

Alat-alat sudah siap, dokter spesialis ada banyak sekali dan sudah stand by juga dokter-dokter yg menangani plan B.

Mereka berdoa sblm mulai tindakan.

Saya takuttt dan cemaas bukan main, dan terus berharap supaya pemasangan selang berhasil, sehingga tidak perlu plan B.

Lalu tiba-tiba ada tim medis yang ajak saya ngomong soal musibah tsb, saya jelaskan panjang lebar, sekitar 15 menit dan tahu-tahu dapat kabar sukses pemasangan selangnya! Puji Tuhann…!

Ini yang sy tulis di FB kemudian:

“Puji Tuhan !!! ENGKAU ALLAH YANG BESAR DAN BERKUASA TUHAN !!! Barusan Tuhan demo kebesaranNya lewat selesainya proses pemasangan selang ke paru2 Aden.. jadi gak perlu dilobangin lehernya..”

Saya bersyukur tindakan ini berhasil, karena tadi dokter jelasin resikonya kalau leher dilubangi (plan B), bisa terjadi pendarahan di paru-paru, ini yang bahaya! Selain itu juga bisa bikin anak jadi gak bisa bicara. Kalo mau bisa ngomong lagi harus terapi panjang.

Puji Tuhan sudah dilalukann… aminn…

Aden di Xray lagi untuk pastiin posisi selang tepat di paru2nya.
Di RSCM setelah X-Ray itu Aden di pindah ke ruang super steril (PICU) dan kami gak bisa liat Aden sampai berhari-hari. Kondisinya Aden kita pantau lewat tim medis yang menangani. Kita banyak tanya dan tanya, meskipun gak ada jawaban yang melegakan.

Btw, kamar PICU di RSCM Unit Luka Bakar ini hanya ada satu saja dengan kapasitas untuk 2 orang pasien tog. Dan puji Tuhan waktu Aden selesai dipasang selang, ternyata masih tersisa 1 kasur. Kalo semisal penuh, gak tau deh Aden harus gmn??

Karena dengan dipasangnya selang berarti untuk bernafas dia bergantung dengan alat. Biaya gak murah juga karena untuk bernafas 1 malam ada biaya sekitar 2.5juta! Bayangkan.. setiap hari kita bisa bernafas dengan gratis, masa gak mengucap syukur sama Tuhan?!

8 juni 2014
Saya ingat itu malam minggu. Teman2 banyak yang datang memberi support dan saya sudah lumayan tegar dan sudah bisa senyum lagi. Di tengah bincang-bincang sama teman tiba-tiba sekitar setengah 10 malam kembali dapat panggilan dari Dokter. Dan saya sangat sangat shock saat itu karena dokter bilang supaya kita BERDOA SAJA karena Aden tadi berontak sehingga selangnya lepas, dan karena itu Oksigen gak masuk, jadi jantungnya sempat berhenti 3 menit dan sedang dibantu dengan alat pacu jantung!!

Saya menjerit histeris dan gak henti-hentinya memohon sama Tuhan. Di depan pintu ruang steril di mana Aden terbaring di dalamnya. Uda gak peduli sama siapapun.

Lalu dikabari bahwa detak jantungnya sudah kembali tapi masih belum stabil. Kami diminta untuk tenang dan terus berdoa.

Kondisi Aden kami update terus kepada keluarga dan teman-teman. Dan saya ingat banyak yang bersatu hati mendoakan Aden, baik itu teman gereja, teman lama, tetangga dan banyak lagi.. Puji Tuhan!! Terimakasih untuk dukungannya..

Urusan nafas sudah stabil tapi belum bisa nafas mandiri tanpa alat.

Lalu bagian kedua adalah membenahi luka bakar di kulitnya (dagu sampai perut). Karena luka tsb masih dibungkus perban bawaan dari RS Premier Bintaro, jadi para dokter bedah tidak bisa memperkirakan kedalaman luka bakarnya.

Tapi sempat ada sounding kalau nanti ternyata agak dalem luka bakarnya, maka akan ada operasi ‘penambalan’. Nanti dagingnya diambil dari daging yg di bokong.

Ya Tuhan.. segera lalukanlah badai ini..

Ternyata setelah dibuka perbannya, gak dalam luka bakarnya, dan kata dokter ini gak parah, dan bekasnya pun bisa cepat hilang karena Aden msh kecil dan masih masa pertumbuhan.

Puji Tuhan.. akhirnya setelah beberapa kali denger berita yang bikin deg deg an kali ini dapat kabar bahagia terus.

Tuhan ijinkan perasaan kami “dipermainkan”. Untuk melihat bagaimana kami me-RESPON.

Di sini saya jadi ngerti gimana perasaan Abraham sewaktu Tuhan suruh utk mengorbankan anaknya, Ishak. Tapi akhirnya Tuhan kirim domba pengganti setelah tahu bahwa Abraham emang terbukti mengasihi Tuhan.

Kadang, Tuhan cuma mau melihat hati kita loh. Apakah di dalam hidup ini ada yg lebih penting dari Dia, bahkan anak kita??!

Sehari-hari saya dan suami nungguin aja di RSCM,  sehingga Marco dibawa Oma Opanya tinggal di Semarang. Kami kangen juga sama Koko, tapi gak ada pilihan..

Hari lepas hari, rasanya saya dan suami dibawa Tuhan kepada kondisi di mana kita gak bisa berbuat apa-apa lagi untuk kesembuhan Aden selain BERSERAH. Iya.. berserah aja…

Setelah melewati dan mengenangnya sih manis ya teman-teman.. Tapi kalau ingat waktu itu pada saat menjalaninya, aduhhh.. kalau saya bukan anak Tuhan, mungkin saya sudah gila beneran!!!

Di RSCM ini darahnya Aden dicek terus biar keliatan hasilnya gimana.

Dan karena pada saat itu pembiayaan tidak dengan asuransi alias cash, maka saya harus selalu standby di RSCM untuk bayar biaya cek darah yang enggak sekali dua kali ini.

Jujur, pada waktu itu saya dan suami uda gak peduli nanti uangnya dari mana untuk bayar semua. Kalau perlu rumah dijual. Yang penting anak saya sembuh!

Sebenarnya hari kedua di RSCM, Kepala Suster tanya kepada saya soal BPJS. Karena kami minim informasi soal BPJS, dan saya kira BPJS hanya untuk warga Jakarta (KTP kami TangSel soalnya), jadi benar-benar nge-blank.

Lalu Kepala Suster memberi penjelasan sedikit dan menganjurkan kami untuk segera proses BPJS, krn dia tahu biayanya akan sangat mahal melihat kondisi Aden yg lumayan kritis.

Akhirnya dengan agak “malas” saya mencoba mencari informasi pendaftaran BPJS. Lokasi ada di RSCM lantai 1. Dari penjelasan yang saya terima semakin membuat kami pesimis, apa iya bisa proses BPJS dalam waktu sekejab?!

Karena menurutnya kita harus urus di kantor BPJS sesuai area KTP. Ya Tuhan.. kami lagi stress karena anak kritis, ehh kudu repot lagi urus BPJS di Tangerang. Cek di website-nya BPJS pake WIFI RSCM Kenaga juga gak bisa akses. Padahal WIFI-nya kenceng. Akhirnya niat bikin BPJS itu hilang begitu saja..

Oiya, selama Aden dirawat di RSCM, kami juga dikirim berkat untuk nginap di hotel dekat RSCM supaya kalau ada apa2 gak kalah sama jarak.

Malam kedua di hotel, saya iseng mencoba akses website bpjs.go.id itu lagi. Ternyata lancar jaya. Jadi sambil rebahan, saya baca-baca cara registrasi bpjs secara online.

Saya ingat itu posisinya sudah jam 11 malam. Merasa bahwa caranya sepertinya gampang saja, lalu saya turun ke lobby dan pinjam PC. Dan puji Tuhan juga karena saya selalu bawa Flash Disk berisi scan surat penting seperti akte lahir, KK, Surat ijazah dll, maka malam itu juga langsung saya eksekusi. Dan registrasi bpjs scr online pun berhasil. Wow.. Semua sudah diatur Tuhan. Haleluyah…!

Pagi harinya, kami dtg agak pagi ke RSCM bagian BNI46 yg melayani pembayaran BPJS, spy gak antri. Ternyata gak ada antrian sama sekali. Dan setelah bayar Rp. 59.500,- untuk iuran kelas 1 BPJS Aden, maka mulai hari itu Aden sudah jadi member BPJS, kartu membernya hanya perlu diprint-out aja, thanks to technology!

Dan otomatis semenjak hari itu semua biaya pengobatan dicover oleh BPJS termasuk biaya cek darah, saya juga sudah gak perlu bayar lagi. Kalau saya gak salah kita dengan BPJS ini kita terbantu sekitar 70juta!!! Tuhan yang berperkara sodaraaah!

Bagaimana dengan kondisi Aden?

Sudah lebih dari seminggu Aden dirawat di ruang PICU, akhirnya ada kabar baik. Dokter bilang nafasnya Aden sudah makin baik dan akan dicoba lepas selang supaya Aden bisa belajar bernafas sendiri tanpa bantuan alat. Ternyata sudah bisa, yesss…!! Thank YOU Jesus!!

Dan kemudian kita diminta cari kamar supaya Aden bisa dipindah ke ruang perawatan, gak di kamar PICU lagi. Ingat kan, kamar itu hanya bisa untuk 2 pasien yang benar-benar butuh alat bantu nafas. Jd untuk pasien yang sudah bisa bernafas sendiri, memang akan segera dipindah spy kalau ada pasien baru yang kritis bisa langsung ditempatkan di sana.

Karena kamar rawat inap anak di RSCM penuh semua bahkan ada waiting list berapa puluh pasien, maka kita lagi-lagi dibuat pusing 7 keliling.. aduhh gimanaaa inii…??!

Puji Tuhan, kata dokter gpp.. Aden bisa dirawat di kamar HCU. Sebenarnya ruang HCU ini seperti ruangan rawat inap biasa, 1 ruang ada 2-3 pasien. Tapi di sini lebih diprioritaskan untuk pasien yang belum benar-benar sembuh tapi sdh lewat masa kritis. Di sini ada banyak tim medis juga yang standby selalu.

Selama dipindah ke HCU ini, di sini saya sudah bisa ikut temenin bobok di sebelah Aden. Sesekali papanya masuk, saya yang gantian di luar. Karena 1 pasien hanya boleh dijaga 1 orang.

Nah ini si Aden uda bisa becanda.. hihi.. foto ini saya ambil dari luar ruangan HCU. Maen cilukba.. pas saya ngumpet.. langsung nangiss dia.. Aden kangen juga ya sama mama papa.. cepet sembuh yah nak..

Aden lagi bobok. Masih di RSCM, di ruangan HCU di mana saya sdh bs menemani.

Hari ini lebih seger lagi karena Aden mau makan biskuit!! Itu Big Royal abis beberapa keping loh.. seneng bgt mama…^^

 

Marcio masih perlu rawat jalan untuk luka bakar dan paru-parunya. Saat plg ke rumah juga masih ada demam yang disebabkan karena beberapa hal : luka bakar itu sendiri, paru-paru yang radang, reak yang mengumpul di dalam, kurang minum, dll. Tapi dokter bilang lebih baik dirawat di rumah aja karena di RS banyak kuman orang sakitngapa-ngapainbakar sudah membaik. Sedangkan paru-paru, demam, bisa dirawat jalan ke dokter anak.

Kami terus berdoa dan berharap kepada Tuhan supaya Dia menyempurnakan kesehatan Marcio. Sehingga gak ada lagi demam naik turun, gak ada lagi radang paru-paru, sel kulit yang baru segera muncul supaya Aden gak garuk-garuk terus karena gatal, pokoknya semua disembuhkan secara total seperti semula, itu doaku. Karena Dialah Jehova Rapha, Allah Penyembuh, Dialah Tabib Ajaib !! Aminnn !!”
18 Juni 2014
Akhirnya kami pulang ke rumah,  setelah selama 13 hari Aden di rawat di RS. Saat gendong Aden itu rasanya kayak baru pulang dari Rumah Bersalin, kayaknya Aden baru dilahirkan. Ajaib semua karya Tuhan! Mujizat kesembuhan dan semua biaya pengobatan Tuhan sediakan.

 

 

Ini si Aden lagi bobok di rumah..

Aden msh agak trauma. Jadi maunya nempel mama aja. Kebayang kan diriku gak bisa ngapa-ngapain kalo Aden gak bobok, karena harus selalu memeluknya. Dia agak takut dengan orang asing.

Setelah di rumah, Aden masih harus sering kontrol kesehatannya ke dokter anak dan menjalani 6 x terapi untuk bantu buang reak yang masih tersisa di saluran nafas.

Puji Tuhan gak berapa lama Aden sembuh total dan banyak orang yg terheran-heran sama mujizat kesembuhan Aden ini. Yahh.. kita belajar banyak hal melalui pengalaman yang sangat berharga ini.

Salah satunya juga belajar melepaskan pengampunan kepada si mbak.

Banyak teman yg mendorong untuk membawa ke meja hijau, tapi gak perlu lah. Faktor kesengajaan maupun ketidak-sengajaan hanya si mbak dan Tuhan yang tahu. Dan bukan bagian kita untuk menghakiminya. Kami tetap melepaskan berkat supaya si mbak bisa lebih baik lagi di kehidupannya.

Kami berbahagia ternyata si Aden kecil memang kesayangannya Tuhan. Anak iniemang kuat. Saya ingat waktu hamil Aden itu gak berasa hamil, gak ada mual muntah. Siang-siang di kantor masih ngerujak, makan nanas (dan sempat minum tolak angin juga), eh ga taunya ada flek dan setelah cek ke dokter kandungan, diriku hamil 8minggu!! Kaget campur bingung.

Dan menjelang kelahirannya, kami siapkan nama:

Marcio Benaya Atmaja

ARTI NAMA

“Benaya” dalam bahasa Ibrani בניהו berarti : Yahweh membangun (Built by God). Benaya, seorang imam keturunan suku Lewi yang termasuk rombongan penyanyi dan pemain musik di Bait Suci dari tingkat kedua pada zaman raja Daud.

Benaya termasuk yang diangkat Daud sebagai pelayan di hadapan tabut TUHAN untuk memasyhurkan TUHAN, Allah Israel dan menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya (1 Taw.16:4-5).

Pada usianya yang kesatu, 5 Juni 2014, seperti apa yang sudah sy tulis di atas, Marcio sempat ‘mati suri’ (jantung berhenti 3 menit) tapi oleh karena kasih dan kemurahan Tuhan saja dia dibangunkan kembali.

ARTI NAMA

“Benaya” dalam bahasa Ibrani בניהו berarti : Yahweh membangun (Built by God). Benaya, seorang imam keturunan suku Lewi yang termasuk rombongan penyanyi dan pemain musik di Bait Suci dari tingkat kedua pada zaman raja Daud.

Benaya termasuk yang diangkat Daud sebagai pelayan di hadapan tabut TUHAN untuk memasyhurkan TUHAN, Allah Israel dan menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya (1 Taw.16:4-5).

Dan nazar kami kalau Tuhan ijinkan dia hidup kembali maka hidupnya akan didedikasikan penuh bagi pekerjaan Tuhan untuk kemuliaan namaNya.

Dengan kehadiran si kecil ini, lengkap sudah kebahagiaan keluarga kami. Kami menyaksikan bagaimana Tuhan sendiri yang membangun keluarga ini, Dia membuat banyak perkara besar dan apa lagi yang bisa kami bilang selain “Haleluyahh.. Praise the Lord!” Amin..

Setiap hari kami menikmati kemurahanMu ya Tuhan. Maka kami pun mau menceritakan kebaikanMu, kebesaranMu, kuasaMu, di manapun kami berada. Terima kasihh Tuhan….

Kesaksian hidup saya ini juga ditampilkan di Buletin MCC edisi Februari 2016, halaman 18-19. Puji Tuhan semoga bisa menjadi berkat dan kekuatan. Amin..

20160208_115234-1-120160208_115139

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: